Kini ku sadar atas diamnya dia adalah perhatian untuk ku..
dalam hatiku sangat senang, bahagia, sedih, juga bingung. hingga saat ini tiba, ku kira dia tidak memperdulikan aku. hingga aku pergi tanpa sepengetahuannya. enam hari terlewatkan dan dia menghubungiku. namun yang terjadi malah kegelisahhan darinya. handphone ku hilang, dan dia menghubungi ku dengan nomor yang dulu. saat ini aku tidak memikirkan apapun,. sedangkan dia mati matian menghawatirkanku.
aku keluar dari kamarku.. dan aku.. menemukan sosok seseorang yang menghawatirkan diriku.
di ruang tamu, kami duduk dengan tenangnya suasana ruangan. hingga ia mulai berbicara.. perlahan aku menatapnya.. mata yang berkaca kaca.. suara yang agak gemetar.. dan sentuhan tangannya.. aku pun meneteskan air mata, air mataku untuk dirinya.. dan aku berbicara, maaf,, dia memandangku.. aku tak sanggup melihat dirinya..
"maaf, aku harus pergi.. bukan saja aku yang mengambil keputusan ini."
aku menangis, dan dia bertanya "kenapa?"
"karena keputusan ini telah disetujui olehku. karena tak ada 1 orangpun yang menentang keputusanku" seakan akan aku merasa tegar. airmataku terhenti dan aku mengusap pipiku.
"aku menghentikanmu! kamu ga boleh pergi..." dia masih menatapku.
"kenapa? kenapa baru sekarang..! dulu kamu kemana saja???" hatiku begitu lemah, tak kuat rasanya menahan tangis. aku tak sadarkan diri.
dua hari aku terdiam dikamarku. merenung dan lemas. ibuku datang memberiku sebuah amplop orange, dan aku membacanya.
"tak sanggup rasanya jika harus mendengar kau pergi. untuk bicara kepadamu saja aku gelisah,, penuh ragu padahal ingin. apa lagi harus melihat kau hilang dari pandanganku...
aku mohon kembalilah, kambalilah kedalam peluk ku.
tidakkah kau merasa aneh, ketika kau ditaman itu.. tidakkah kau merasa akan dekatnya diriku disisimu?
aku ada di taman itu, aku bahagia melihat tawamu.
saat kau terburu buru ke kantin, karena kau tidak ingin telat makan.
dan ketika kau termenung saat suasana mengizinkan kamu untuk sendirian di ruangan.
aku ingin menghapus air matamu lagi...
izinkanlah aku untuk didepanmu secara nyata.
tersenyumlah.. karena senyummu menyemangatkanku."
setelah selesai aku membacanya, dan malam ini juga aku pergi.
berlari menuju taman dan lariku terhenti. rasa ku benar, rasaku memang untuknya.
aku melihatnya, dia ada di taman itu. dia berdiri dan menengok ku dari tempat duduk yang membelakangiku. dia datang dan memelukku. aku ingin melepaskannya,,, namun aku.... Hangat.
aku memejamkan mata sejenak, dan dia melepaskan peluknya. lalu aku menunjukan surat itu kepadanya. dia memegang kedua tanganku, dan berkata
"jangan pergi lagi"
aku tersenyum bahagia melihatnya. seperti terbang berdua di atas awan..
aku menjawab "iya, dan aku takan pergi dari hatimu lagi"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar